Selasa, 07 Januari 2025

Yosua Hakim Hakim Rut 22


 6-22 

 551 

sangkakala sang penghulu malaikat berbunyi, unsur-unsur 

dunia terbakar, langit lenyap dengan gemuruh yang dah-

syat, dan Tuhan sendiri turun dengan diiringi teriakan 

sorak-sorai! 

II. Keberhasilan yang menakjubkan dari tanda bahaya ini. Orang-

orang Midian diteriaki hingga kehilangan nyawa mereka, seperti 

tembok Yerikho diteriaki hingga runtuh,supaya  Gideon dapat 

melihat apa yang belakangan ini dianggapnya tidak akan pernah 

dilihatnya sebab  pupus harapan, yaitu keajaiban-keajaiban yang 

diceritakan nenek moyang mereka kepada mereka. Prajurit-pra-

jurit Gideon menjalankan apa yang diperintahkan kepada mereka. 

Dan mereka berdiri, masing-masing di tempatnya, sekeliling perke-

mahan itu (ay. 21), sambil membunyikan sangkakala untuk meng-

gusarkan hati orang Midian hingga mereka bertempur satu sama 

lain, dan sambil mengulurkan obor untuk menerangi orang Midian 

menuju kehancuran mereka. Pasukan Gideoan tidak terburu-buru 

masuk ke perkemahan Midian, seperti orang yang haus darah atau 

jarahan, namun  dengan sabar berdiri tetap untuk melihat keselamat-

an dari TUHAN, keselamatan yang semata-mata dikerjakan-Nya 

sendiri. Cermatilah bagaimana rancangan itu terwujud.  

1. Pasukan Midian takut kepada orang-orang Israel. Seluruh ten-

tara musuh segera menyadari tanda bahaya itu. Tanda bahaya 

itu terbang seperti kilat melewati semua barisan mereka, dan 

mereka menjadi kacau balau, berteriak-teriak, dan melarikan 

diri (ay. 21). Semua kekalutan ini wajar saja terjadi di tengah 

ketakutan. Kita dapat menduga bahwa mereka tidak mende-

ngar kabar tentang pengurangan besar-besaran jumlah ten-

tara Gideon, namun  malah menyimpulkan bahwa sejak kabar-

kabar yang terakhir mereka terima, tentara Gideon itu makin 

hari makin besar. Oleh sebab itu, beralasan bagi mereka un-

tuk curiga, sebab  mengetahui betapa menjijikkan dan menye-

dihkannya kelakukan mereka sendiri, dan betapa berani lang-

kah-langkah yang sudah diambil untuk membuang kuk mere-

ka, bahwa pasti tentara yang sangat besarlah yang harus di-

hantar dengan semua sangkakala dan pembawa obor seperti 

itu. namun  ada kuasa adikodrati yang lebih berperan dalam 

menekankan kengerian ini pada mereka. Allah sendiri yang 

melakukan serangan itu, untuk menunjukkan bagaimana jan-


 552

ji-Nya pasti tergenapi kecuali jika ditarik kembali dari mereka 

sebab  kesalahan mereka sendiri, yaitu janji bahwa satu orang 

saja dari pada kamu dapat mengejar seribu orang. Lihatlah 

kekuatan pikiran akan hal-hal yang belum terjadi, dan betapa 

ia dapat menjadi kengerian pada suatu waktu, dan juga kese-

nangan pada waktu-waktu lain.  

2. Pasukan Midian menyerang satu sama lain: TUHAN membuat 

pedang yang seorang diarahkan kepada yang lain (ay. 22). 

Dalam kekalutan ini, sebab  melihat para peniup sangkakala 

dan pembawa obor tetap berdiri di luar perkemahan mereka, 

maka mereka menyimpulkan bahwa tentara utama dari pa-

sukan Gideon sudah masuk dan ada di tengah-tengah mereka. 

Oleh sebab  itu, setiap orang berpaling menghantam orang di 

sebelahnya yang ditemui, mengira itu musuhnya, meskipun 

sebenarnya temannya sendiri. Kesalahan ini menimbulkan 

banyak yang lain untuk ikut, sebab saat   ada yang mem-

bunuh temannya, ia pasti dianggap musuh, dan akan dibunuh 

juga dengan segera. Kita berkepentingan untuk tetap mengua-

sai roh kita dengan begitu rupa, hingga kita tidak pernah takut 

dengan terkaget-kaget. Sebab kita tidak dapat membayangkan 

kejahatan-kejahatan apa yang ke dalamnya kita akan men-

jerumuskan diri kita sendiri jika kita takut dengan terkaget-

kaget. Lihatlah juga bagaimana Allah sering kali membuat 

musuh-musuh dari jemaat-Nya menghancurkan satu sama 

lain. Sangat disayangkan jika ada sahabat-sahabat jemaat 

yang bertindak di luar akal sehat seperti itu.  

3. Pasukan Midian berlarian untuk menyelamatkan diri. Mungkin 

saat   fajar menyingsing, mereka menyadari kesalahan mereka 

dalam memerangi satu sama lain, dan sadar bahwa oleh kesa-

lahan yang mematikan ini, mereka sudah begitu memperlemah 

diri sendiri, hingga sekarang mustahil untuk maju melawan Is-

rael. sebab  itu, mereka berusaha sebaik-baiknya untuk kem-

bali ke negeri mereka sendiri, meskipun, sejauh yang tampak, 

ke-300 orang Gideon itu tetap berdiri di tempat. Orang fasik lari, 

walaupun tidak ada yang mengejarnya (Ams. 28:1). Kedahsyat-

an mengejutkan dia di mana-mana, dan mengejarnya di mana 

juga ia melangkah (Ayb. 18:11). 

 

Kitab Hakim-hakim 7:23-25 

 553 

Kemenangan Gideon 

(7:23-25) 

23 lalu  dikerahkanlah orang-orang Israel dari suku Naftali dan dari 

suku Asyer dan dari segenap suku Manasye, lalu mereka mengejar orang 

Midian itu. 24 Gideon menyuruh juga orang ke seluruh pegunungan Efraim 

dengan pesan: “Turunlah menghadapi orang Midian, dan dudukilah segala 

batang air sampai ke Bet-Bara, dan juga sungai Yordan.” Maka semua orang 

Efraim dikerahkan, lalu mereka menduduki segala batang air sampai ke Bet-

Bara, juga sungai Yordan. 25 Mereka berhasil menawan dua raja Midian, 

yakni Oreb dan Zeeb. Oreb dibunuh di gunung batu Oreb dan Zeeb dibunuh 

dalam tempat pemerasan anggur Zeeb. Mereka mengejar orang Midian itu, 

lalu mereka membawa kepala Oreb dan kepala Zeeb kepada Gideon di 

seberang sungai Yordan. 

Kita mendapati di sini bagaimana kemenangan yang gemilang ini 

dilanjutkan.  

1. Prajurit-prajurit Gideon yang sudah dibubarkan, dan mungkin 

sudah mulai berpencar, sesudah  mengetahui bahwa musuh-

musuh berlarian, berkumpul bersama-sama kembali, dan dengan 

gigih mengejar orang-orang yang sebelumnya tidak berani mereka 

hadapi. Orang-orang Israel dari suku Naftali dan dari suku Asyer 

yang melakukan ini (ay. 23) bukanlah orang-orang yang baru 

datang dari negeri-negeri yang jauh itu, melainkan orang-orang 

yang sama yang sudah mendaftarkan diri (6:35), namun  dibubar-

kan. Orang-orang yang dulu takut dan gentar untuk berperang 

(ay. 3) sekarang menguatkan hati, saat   yang terburuk sudah 

berlalu. Sekarang mereka cukup siap untuk ikut berbagi jarahan, 

meskipun lamban untuk mengadakan serangan. Juga orang-

orang yang tidak boleh berperang meskipun mereka ingin, dan 

dibubarkan oleh perintah dari Allah, tidak berbuat seperti orang-

orang dalam 2 Tawarikh 25:10, 13, yaitu kembali dengan marah 

yang menyala-nyala. namun  mereka menunggu kesempatan untuk 

bisa ikut membantu meneruskan kemenangan itu, meskipun 

mereka tidak mendapat kehormatan untuk membantu memper-

kuat barisan yang bertempur.  

2. Orang-orang Efraim, sesudah  mendengar panggilan dari Gideon, 

datang dengan suara bulat, dan mengamankan jalan-jalan yang 

melewati sungai Yordan, melalui beberapa kali seberangan, untuk 

memutus jalan para musuh untuk kembali ke negeri mereka 

sendiri. Dengan begitu, musuh dapat dihancurkan sepenuhnya, 

untuk mencegah kejahatan serupa kepada Israel di lain waktu. 

sebab  sekarang musuh mulai jatuh, maka mudah untuk ber-


 554

kata, gulingkan mereka (Est. 6:13). Orang Efraim menduduki se-

gala batang air (ay. 24), yaitu, berjaga-jaga di sepanjang tepian 

sungai, sehingga orang-orang Midian, yang melarikan diri dari 

pengejaran, jatuh ke tangan orang-orang Efraim yang mencegat 

mereka. Di sini ada dikejutkan, pelubang, dan jerat (Yes. 24:17).  

3. Dua dari panglima besar pasukan Midian ditangkap dan dibunuh 

oleh orang-orang Efraim di sungai Yordan seberang sini (ay. 25). 

Nama-nama mereka mungkin menandakan sifat mereka. Oreb 

berarti gagak, dan Zeeb berarti serigala (corvus dan lupus). Kedua 

orang ini dalam pelarian mereka mencari tempat berlindung, yang 

satu di celah-celah batu (Yes. 2:21; Why. 6:15), dan yang lain 

dalam tempat pemerasan anggur, seperti yang dilakukan Gideon, 

yang sebab  takut pada mereka, belum lama ini menyembunyikan 

gandumnya dalam tempat pemerasan anggur (6:11). namun  tem-

pat-tempat perlindungan mereka dibuat menjadi tempat  pemban-

taian bagi mereka. Dan ingatan akan hal itu dipelihara bagi ketu-

runan yang akan datang melalui nama dari tempat-tempat itu, 

bagi aib mereka untuk selama-lamanya: Di sini tewas raja-raja 

Midian. 

 

 

 

 

PASAL  8  

asal ini memberi kita gambaran lebih jauh tentang kemenangan 

Gideon atas orang Midian, beserta sisa cerita tentang hidup dan 

pemerintahannya.  

I. Gideon dengan bijak menenangkan orang Efraim yang me-

rasa sakit hati (ay. 1-3).  

II. Ia dengan berani mengejar orang-orang Midian yang melari-

kan diri (ay. 4, 10-12).  

III. Ia dengan adil menghukum orang Sukot dan orang Pnuel 

yang kurang ajar, yang secara hina telah melecehkannya (ay. 

5-9). Ia mengadakan perhitungan dengan mereka sebab nya 

(ay. 13-17).  

IV. Ia secara terhormat membunuh dua raja Midian (ay. 18-21).  

V. sesudah  semuanya ini, ia dengan rendah hati menolak untuk 

memerintah Israel (ay. 22-23).  

VI. Ia dengan bodoh menuruti keinginan rakyatnya yang ber-

sifat takhayul dengan mendirikan baju efod di kotanya sen-

diri, yang terbukti menjadi jerat yang besar (ay. 24-27).  

VII. Ia menjaga negerinya tetap tenang selama empat puluh 

tahun (ay. 28).  

VIII. Ia meninggal dalam kehormatan, dan meninggalkan banyak 

keluarga (ay. 29-32).  

IX. Baik ia maupun Allahnya segera dilupakan oleh Israel yang 

tidak tahu berterima kasih (ay. 33-35). 


 556

Gideon Menenangkan Orang-orang Efraim 

(8:1-3) 

1 Lalu berkatalah orang-orang Efraim kepada Gideon: “Apa macam perbuat-

anmu ini terhadap kami! Mengapa engkau tidak memanggil kami, saat   eng-

kau pergi berperang melawan orang Midian?” Lalu mereka menyesali dia 

dengan sangat. 2 Jawabnya kepada mereka: “Apa perbuatanku dalam hal ini, 

jika dibandingkan dengan kamu? Bukankah pemetikan susulan oleh suku 

Efraim lebih baik hasilnya dari panen buah anggur kaum Abiezer? 3 Allah 

telah menyerahkan kedua raja Midian itu, yakni Oreb dan Zeeb, ke dalam 

tanganmu; apa yang telah dapat kucapai, jika dibandingkan dengan kamu?” 

sesudah  ia berkata demikian, maka redalah marah mereka terhadap dia. 

Tidak lama sesudah  orang Midian, yaitu musuh bersama, ditunduk-

kan, orang Israel lalu , oleh kekerasan beberapa orang yang 

panas hati, bersiap-siap untuk berseteru di antara mereka sendiri. 

Percikan yang tidak menyenangkan dinyalakan. Seandainya tidak 

segera dipadamkan oleh Gideon dengan hikmat dan anugerah yang 

besar, bisa saja percikan itu berkobar menjadi api yang berakibat 

mematikan. saat   orang-orang Efraim membawa kepala Oreb dan 

Zeeb kepada Gideon sebagai panglima, mereka bukannya mengucap-

kan selamat kepadanya atas keberhasilannya, dan berterima kasih 

kepadanya atas pelayanan-pelayanannya yang besar, seperti yang 

seharusnya mereka lakukan, mereka malah berseteru dengannya dan 

menjadi panas hati. 

I. Tuduhan mereka penuh kejengkelan dan tidak beralasan: Meng-

apa engkau tidak memanggil kami, saat   engkau pergi berperang 

melawan orang Midian? (ay. 1). Efraim yaitu  adik Manasye, suku 

Gideon, dan mendapat keutamaan dalam berkat Yakub dan ber-

kat Musa. Oleh sebab  itu, Efraim sangat cemburu dengan Mana-

sye, jangan-jangan suku itu pada suatu saat akan memudarkan 

kehormatan suku mereka. Itulah sebabnya kita mendapati Mana-

sye melawan Efraim dan Efraim melawan Manasye (Yes. 9:20). 

Saudara yang dikhianati lebih sulit dihampiri dari pada kota yang 

kuat, dan pertengkaran mereka yaitu  seperti palang gapura 

sebuah puri (Ams. 18:19). namun  betapa tidak wajarnya perteng-

karan mereka dengan Gideon! Mereka marah sebab  ia tidak 

meminta mereka memulai serangan terhadap orang Midian, dan 

juga meneruskan serangan itu. Mengapa mereka tidak dipanggil 

untuk memimpin barisan depan? Tempat kehormatan, mereka 

pikir, yaitu  milik mereka. Akan namun ,  

Kitab Hakim-hakim 8:1-3 

 557 

1. Gideon dipanggil oleh Allah, dan harus bertindak sesuai yang 

diarahkan-Nya. Gideon tidak mengambil kehormatan untuk 

dirinya sendiri, tidak pula memberikan kehormatan kepada 

siapa pun, namun  menyerahkan kepada Allah untuk melaku-

kan semuanya. Dengan begitu orang-orang Efraim, dalam per-

tengkaran ini, mencela pimpinan ilahi. Dan siapakah Gideon 

hingga mereka bersungut-sungut kepadanya?  

2. Mengapa orang-orang Efraim tidak menawarkan diri secara 

sukarela untuk pekerjaan itu? Mereka tahu bahwa musuh ber-

ada di negeri mereka, dan mereka sudah mendengar tentang 

pasukan-pasukan yang bangkit untuk melawan sang musuh. 

Mereka seharusnya bergabung dengan pasukan-pasukan itu, 

dalam semangat untuk membela kepentingan bersama, mes-

kipun mereka tidak mendapat undangan resmi. Orang mencari 

kehormatan diri mereka sendiri daripada Allah, jika mereka 

berdiri di tempat kehormatan sebagai alasan untuk tidak me-

lakukan pekerjaan yang nyata bagi Allah dan angkatan mere-

ka. Pada masa Debora, ada orang-orang Efraim (5:14). Meng-

apa mereka tidak muncul sekarang? Perkara itu sendiri me-

manggil mereka, mereka tidak perlu menunggu panggilan dari 

Gideon.  

3. Gideon telah menyelamatkan nama baik mereka dengan tidak 

memanggil mereka. Seandainya ia mengutus mereka, tidak di-

ragukan lagi banyak dari mereka akan kembali bersama orang-

orang yang lemah hati, atau disuruh pergi bersama orang-orang 

yang malas, lamban, dan gegabah. Dengan begitu, dengan tidak 

memanggil mereka, ia mencegah cemoohan-cemoohan itu ditim-

pakan ke atas mereka. Para pengecut akan tampak berani keti-

ka bahaya sudah berlalu, namun  orang-orang yang tidak menguji 

keberanian mereka saat   bahaya dekat, mereka itu memper-

hitungkan nama baik mereka. 

II. Jawaban Gideon sangat tenang dan penuh kedamaian, dan di-

maksudkan bukan untuk membenarkan dirinya sendiri, melain-

kan terlebih untuk menyenangkan dan menenangkan mereka (ay. 

2-3). Ia menjawab mereka,  

1. Dengan sangat lemah lembut dan sabar. Ia tidak merasa ma-

rah dengan penghinaan itu, tidak pula menanggapi amarah 

dengan amarah, namun  dengan lembut menjelaskan duduk per-


 558

karanya kepada mereka. Dan ia mendapat kehormatan yang 

sejati sebab  telah menang atas amarahnya sendiri melalui 

penguasaan diri, sama seperti ia mendapat kehormatan mela-

lui kemenangannya atas orang Midian. Orang yang sabar mele-

bihi seorang pahlawan.  

2. Dengan sangat bersahaja dan rendah hati, dengan meng-

agung-agungkan perbuatan-perbuatan mereka melebihi per-

buatan-perbuatannya sendiri: Bukankah pemetikan susulan 

oleh suku Efraim, yang mencegat musuh-musuh yang tercerai-

berai, dan yang melenyapkan musuh-musuh yang melarikan 

diri, lebih baik hasilnya dari panen buah anggur kaum Abiezer? 

Bukankah ini kehormatan yang lebih besar bagi mereka, dan 

pelayanan yang lebih baik bagi negeri, daripada serangan 

pertama yang dibuat Gideon terhadap para musuh itu? Kehan-

curan musuh-musuh jemaat dibandingkan dengan buah-buah 

pohon anggur (Why. 14:18). Dalam hal ini Gideon mengakui 

bahwa pemetikan susulan mereka lebih baik daripada panen 

yang dikumpulkannya. Memanfaatkan kemenangan sering kali 

lebih terhormat, dan berdampak lebih besar, daripada mem-

peroleh kemenangan. Dalam hal ini mereka telah membuat diri 

mereka, keberanian, dan perilaku mereka menjadi menonjol, 

atau lebih tepatnya, Allah telah menjunjung martabat mereka. 

Sebab walaupun, untuk membesarkan pencapaian-pencapaian 

mereka, Gideon rela mengecilkan perbuatan-perbuatannya 

sendiri, namun ia tidak mau mengambil sekuntum pun bunga 

dari mahkota Allah untuk menghiasi mahkota mereka: “Allah 

telah menyerahkan kedua raja Midian itu ke dalam tanganmu, 

dan pembantaian besar-besaran telah dibuat terhadap musuh 

oleh pasukanmu yang banyak. Dan apa perbuatanku dalam 

hal ini dengan tiga ratus orang, jika dibandingkan dengan 

kamu dan tindakan-tindakanmu yang berani?” Gideon di sini 

berdiri sebagai teladan yang sangat baik tentang penyangkalan 

diri, dan contoh ini menunjukkan kepada kita,  

(1) Bahwa sikap merendah yaitu  cara terbaik untuk menghi-

langkan iri hati. Memang benar bahwa bahkan pekerjaan-

pekerjaan baik sering kali menimbulkan iri hati (Pkh. 4:4). 

Namun, pekerjaan baik tidak akan ditanggapi seperti ini, 

jika orang yang melakukannya tidak membangga-bangga-

kan diri. Sungguh jahat mereka yang berusaha menjatuh-

Kitab Hakim-hakim 8:4-17 

 559 

kan dari keunggulannya orang yang rendah hati dan me-

rendahkan diri.  

(2) Sikap merendah juga yaitu  cara yang paling ampuh un-

tuk mengakhiri perselisihan, sebab keangkuhan hanya me-

nimbulkan pertengkaran (Ams. 13:10).  

(3) Kerendahan hati itu paling menyenangkan dan mengagum-

kan di tengah-tengah berbagai pencapaian dan kemajuan 

yang besar. Penaklukan-penaklukan Gideon benar-benar 

memperindah tindakannya yang merendah. 

(4) Tindakan merendah yang benar yaitu  menganggap yang 

lain lebih utama dari pada diri kita sendiri, dan saling men-

dahului dalam memberi hormat. 

Nah, apa akhir dari perselisihan ini? Orang-orang Efra-

im sudah mereka mencacinya dengan keras (ay. 1, KJV), de-

ngan melupakan penghormatan yang semestinya diberikan 

kepada panglima mereka, dan kepada orang yang telah 

diberi kehormatan oleh Allah sendiri. Mereka melampias-

kan amarah dengan berbicara secara sangat tidak pantas 

dan seenaknya. Ini merupakan tanda yang pasti dari per-

kara yang lemah dan tak dapat dibela. Akal budi tidak 

berjalan dengan benar jika  caci maki mengalir lancar. 

namun  jawaban Gideon yang lemah lembut meredakan kege-

raman mereka (Ams. 15:1). Redalah marah mereka terhadap 

dia (ay. 3). Tersirat bahwa mereka masih menyimpan rasa 

panas hati, namun  ia dengan bijak mengabaikannya dan 

membiarkannya mereda perlahan-lahan. Orang-orang besar 

dan baik harus senantiasa siap untuk diuji kesabarannya 

oleh ketidakbaikan dan kebodohan, bahkan dari orang-orang 

yang mereka layani. Jadi mereka tidak perlu merasa heran 

akan hal itu. 

Gideon Mengejar Orang Midian 

(8:4-17)  

4 saat   Gideon sampai ke sungai Yordan, menyeberanglah ia dan ketiga 

ratus orang yang bersama-sama dengan dia, meskipun masih lelah, namun 

mengejar juga. 5 Dan berkatalah ia kepada orang-orang Sukot: “Tolong beri-

kan beberapa roti untuk rakyat yang mengikuti aku ini, sebab mereka telah 

lelah, dan aku sedang mengejar Zebah dan Salmuna, raja-raja Midian.”  

6 namun  jawab para pemuka di Sukot itu: “Sudahkah Zebah dan Salmuna itu 

ada dalam tanganmu, sehingga kami harus memberikan roti kepada tentara-


 560

mu?” 7 Lalu kata Gideon: “Kalau begitu, jika  TUHAN menyerahkan Zebah 

dan Salmuna ke dalam tanganku, aku akan menggaruk tubuhmu dengan 

duri padang gurun dan onak.” 8 Maka berjalanlah ia dari sana ke Pnuel, dan 

berkata demikian juga kepada orang-orang Pnuel, namun  orang-orang ini pun 

menjawabnya seperti orang-orang Sukot. 9 Lalu berkatalah ia juga kepada 

orang-orang Pnuel: “jika  aku kembali dengan selamat, maka aku akan 

merobohkan menara ini.” 10 Sementara itu Zebah dan Salmuna ada di Karkor 

bersama-sama dengan tentara mereka, kira-kira lima belas ribu orang ba-

nyaknya, yakni semua orang yang masih tinggal hidup dari seluruh tentara 

orang-orang dari sebelah timur; banyaknya yang tewas ada seratus dua 

puluh ribu orang yang bersenjatakan pedang. 11 Gideon maju melalui jalan 

orang-orang yang diam di dalam kemah di sebelah timur Nobah dan Yogbeha, 

lalu memukul kalah tentara itu, saat   tentara itu menyangka dirinya aman. 

12 Zebah dan Salmuna melarikan diri, namun  Gideon mengejar mereka dan 

menawan kedua raja Midian itu, yakni Zebah dan Salmuna, sedang seluruh 

tentara itu diceraiberaikannya. 13 lalu  kembalilah Gideon bin Yoas dari 

peperangan dengan melalui pendakian Heres; 14 ditangkapnyalah seorang 

muda dari penduduk Sukot. sesudah  ditanyai, orang itu menuliskan nama 

para pemuka dan para tua-tua di Sukot untuk Gideon, tujuh puluh tujuh 

orang banyaknya. 15 Lalu pergilah Gideon kepada orang-orang Sukot sambil 

berkata: “Inilah Zebah dan Salmuna yang sebab nya kamu telah mencela 

aku dengan berkata: Sudahkah Zebah dan Salmuna itu ada dalam tangan-

mu, sehingga kami harus memberikan roti kepada orang-orangmu yang lelah 

itu?” 16 Lalu ia mengumpulkan para tua-tua kota itu, ia mengambil duri 

padang gurun dan onak, dan menghajar orang-orang Sukot dengan itu. 17 

Juga menara Pnuel dirobohkannya dan dibunuhnya orang-orang kota itu. 

Dalam ayat-ayat ini kita mendapati, 

I. Gideon, seperti panglima yang gagah berani, mengejar orang-

orang Midian yang tersisa, dan melanjutkan serangannya dengan 

berani. Pembantaian yang besar-besaran pertama-tama dibuat 

terhadap musuh: 120.000 orang yang bersenjatakan pedang (ay. 

10). Betapa mengerikan penghukuman yang orang Midian lak-

sanakan di antara mereka sendiri, dan betapa mereka menjadi 

mangsa yang empuk bagi Israel. Akan namun , tampaknya, kedua 

raja Midian itu, sebab  diperlengkapi dengan baik lebih daripada 

yang lainnya, dapat melarikan diri, dan dengan lima belas ribu 

orang berhasil menyeberang sungai Yordan sebelum jalan-jalannya 

dapat diamankan oleh orang-orang Efraim. Mereka berhasil pergi 

menuju negeri mereka sendiri. Gideon berpikir bahwa ia tidak sepe-

nuhnya menjalankan tugasnya untuk menyelamatkan Israel jika ia 

membiarkan mereka lolos. Ia tidak puas hanya mengusir mereka 

dari negeri, namun  juga mau mengenyahkan mereka dari dunia (Ayb. 

18:18). Tekad ini dikuatkan dengan keteguhan hati yang hebat, dan 

dimahkotai dengan keberhasilan yang besar. 

Kitab Hakim-hakim 8:4-17 

 561 

1. Keteguhan hatinya sangat patut diteladani. Ia mewujudkan 

tujuannya di bawah keadaan-keadaan yang amat tidak meng-

untungkan dan mengecilkan hati.  

(1) Ia tidak membawa seorang pun bersamanya kecuali ke tiga 

ratus orangnya, yang sekarang meletakkan sangkakala dan 

obor mereka, dan mengambil pedang dan tombak mereka. 

Allah telah berfirman, dengan ketiga ratus orang yang 

menghirup itu akan Kuselamatkan kamu (7:7). Dan, dengan 

meyakini janji itu, Gideon hanya mempertahankan mereka 

saja (ay. 4). Ia mengharapkan hal yang lebih besar dari tiga 

ratus orang ini, yang disokong oleh sebuah janji khusus, 

daripada dari ribuan orang, yang hanya disokong oleh 

keberanian mereka sendiri.  

(2) Mereka lelah, namun mengejar juga, dibuat sangat letih 

oleh apa yang telah mereka lakukan, dan sekalipun begitu 

ingin berbuat lebih banyak melawan musuh-musuh negeri 

mereka. Peperangan rohani kita haruslah dijalankan seper-

ti itu dengan segenap kekuatan yang kita miliki, meskipun 

kita hanya memiliki sedikit saja. Keadaan ini sering kali 

menimpa orang Kristen sejati, kelelahan namun mengejar 

juga.  

(3) Meskipun Gideon mengalami tawar hati oleh sebab  orang-

orang sebangsanya sendiri, dicemooh atas apa yang sedang 

dilakukannya, sebab  dianggap mengusahakan sesuatu 

yang tidak akan pernah dicapainya, namun ia terus mela-

kukannya. Jika orang-orang yang seharusnya menjadi 

penolong kita di jalan kewajiban kita ternyata menghalang-

halangi kita, jangan hal ini membuat kita meninggalkan 

kewajiban kita. Orang-orang yang tidak tahu bagaimana 

memandang rendah berbagai celaan dan hinaan manusia, 

tidak tahu bagaimana menghargai penerimaan Allah.  

(4) Gideon melakukan perjalanan yang sangat panjang melalui 

jalan orang-orang yang diam di dalam kemah (ay. 11), 

mungkin sebab  ia berharap untuk mendapati mereka 

bersikap lebih baik kepadanya daripada orang Sukot dan 

orang Pnuel, yang tinggal di kota-kota bertembok. Kadang-

kadang ada lebih banyak kemurahan hati dan kasih yang 

ditemukan di dalam kemah-kemah desa daripada di dalam 

istana-istana kota. Atau sebab  jalan itu yaitu  jalan yang 


 562

paling tidak diduga akan ditempuhnya, dan sebab nya 

jalan itu akan memberikan kejutan yang lebih besar untuk 

mereka. Jelas bahwa ia tidak segan-segan bersusah payah 

untuk merampungkan kemenangannya. Sekarang ia men-

dapati sebagai keuntungan bahwa ia memiliki tiga ratus 

orang yang dapat menanggung lapar, haus, dan kerja 

keras. Tampaknya, ia hendak menyerang musuh pada ma-

lam hari, seperti yang sudah dia lakukan sebelumnya, 

sebab tentara itu menyangka dirinya aman. Rasa aman 

orang-orang berdosa sering kali terbukti sebagai kehancur-

an mereka, dan bahaya-bahaya yaitu  paling mematikan 

saat   paling tidak ditakuti. 

2. Keberhasilannya sangat mendorongnya untuk menetapkan 

hati dan bertekun dalam perkara yang baik. Ia memukul kalah 

tentara musuh (ay. 11), dan menahan kedua raja Midian (ay. 

12). Perhatikanlah, apa yang ditakutkan orang fasik akan da-

tang menimpanya. Orang-orang yang menyangka sedang lari 

dari pedang Tuhan dan pedang Gideon, ternyata justru sedang 

berlari di atasnya. Kalaupun ia dapat meluputkan diri terhadap 

senjata besi, namun panah tembaga menembus dia. Sebab 

orang berdosa dikejar oleh malapetaka. 

II. Di sini ada Gideon, bagaikan seorang hakim yang adil, sedang 

menghajar kekurangajaran orang-orang Israel yang merasa tidak 

puas, yaitu orang Sukot dan orang Pnuel, keduanya tinggal dalam 

suku Gad, di seberang sungai Yordan. 

1. Kejahatan mereka besar. Gideon, dengan segelintir orang yang 

lemah, sedang mengejar musuh bersama, untuk melengkapi 

pembebasan Israel. Jalan yang dia tempuh membawanya me-

lewati kota Sukot pertama-tama, dan sesudahnya kota Pnuel. 

Gideon tidak berharap bahwa para hakim kedua kota itu 

harus menemuinya dengan segala upara kebesaran, meng-

ucapkan selamat kepadanya atas kemenangannya, memper-

sembahkan kepadanya kunci kota mereka, dan menjamunya. 

Apalagi sampai meminta mereka harus mengirimkan pasukan-

pasukan untuk membantunya, meskipun ia berhak atas se-

muanya ini. Sebaliknya, ia hanya memohon sedikit makanan 

yang diperlukan untuk para prajuritnya, yang sudah mau 

Kitab Hakim-hakim 8:4-17 

 563 

pingsan sebab  kelaparan. Dan ia memohon dengan sangat 

rendah hati dan mendesak: Tolong berikan beberapa roti untuk 

rakyat yang mengikuti aku ini (ay. 5). Permintaan itu masuk 

akal seandainya mereka hanyalah para pelancong miskin yang 

sedang kesusahan. namun  mereka yaitu  para prajurit, yang 

terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia (Why. 17:14), 

orang-orang yang sudah diberi kehormatan besar oleh Allah, 

dan yang kepada mereka Israel sangat berutang budi. Para 

prajurit itu telah melakukan pekerjaan besar untuk negeri 

mereka, dan sekarang sedang melakukan lebih lagi. Bahwa 

mereka yaitu  penakluk, dan berkuasa untuk mewajibkan 

orang Sukot dan orang Pnuel memberi bantuan, dan bahwa 

mereka sedang berperang bagi Allah dan Israel. Mengingat hal 

itu, tidak ada yang lebih wajar selain bahwa saudara-saudara 

mereka itu harus memberi mereka persediaan-persediaan yang 

terbaik yang dapat diberikan kota mereka. namun  para pemuka 

di Sukot itu tidak takut akan Allah dan tidak menghormati 

seorang pun. Sebab, 

(1) Dalam penghinaan terhadap Allah, mereka menolak untuk 

memenuhi permintaan-permintaan yang wajar dari orang 

yang telah dibangkitkan Allah untuk menyelamatkan mere-

ka. Mereka menghinanya, mengolok-olok dia, dan meman-

dang rendah keberhasilan yang dengannya ia sudah dihor-

mati. Mereka pupus harapan bahwa usahanya yang seka-

rang akan berhasil. Mereka berbuat semampu mereka un-

tuk mengecilkan hatinya dalam meneruskan perang itu. 

Dan mereka mau saja percaya bahwa pasukan-pasukan 

Midian yang tersisa, yang sekarang sudah mereka lihat ber-

jalan melewati negeri mereka, akan terlalu tangguh bagi-

nya: Sudahkah Zebah dan Salmuna itu ada dalam tangan-

mu? “Tidak, dan tidak akan pernah,” demikian mereka me-

nyimpulkan, dengan menghakimi berdasar  tidak seim-

bangnya jumlah mereka.  

(2) Pintu belas kasihan mereka tertutup bagi saudara-saudara 

mereka. Mereka miskin akan kasih dan juga iman. Sebagi-

an penafsir membacanya bahwa mereka tidak mau mem-

berikan sepotong roti) kepada orang-orang yang sudah mau 

binasa. Inikah para pemuka? Inikah orang-orang Israel? 

Mereka tidak layak menyandang kedua sebutan itu. Mereka 


 564

orang-orang hina dan bejat! Pasti mereka yaitu  para pe-

nyembah Baal, atau membela kepentingan-kepentingan 

orang Midian. Orang-orang Pnuel memberikan jawaban 

yang sama untuk permintaan yang sama, dengan menen-

tang pedang TUHAN dan pedang Gideon (ay. 8). 

2. Peringatan yang diberikan Gideon kepada mereka tentang 

hukuman atas kejahatan mereka sangatlah baik.  

(1) Ia tidak menghukum kejahatan mereka dengan segera, ka-

rena ia tidak mau kehilangan banyak waktu dalam menge-

jar musuh yang melarikan diri darinya, dan sebab  ia tidak 

mau terlihat melakukannya dalam amarah yang memanas. 

Juga sebab  ia terlebih mau melakukannya untuk mem-

buat mereka malu dan bingung sesudah  ia menuntaskan 

usahanya, yang mereka pikir mustahil terlaksana. Sebalik-

nya,  

(2) Gideon memberi tahu mereka bagaimana ia akan menghu-

kum kejahatan mereka (ay. 7, 9), untuk menunjukkan 

keyakinan yang dimilikinya, bahwa ia akan berhasil dalam 

kekuatan Allah. Dan bahwa, seandainya dalam diri mereka 

tersisa sedikit saja kemurahan dan pertimbangan, mereka 

bisa saja, sesudah  berpikir dua kali, bertobat dari kebodoh-

an mereka, merendahkan diri mereka, dan berusaha untuk 

menebusnya, dengan mengirimkan berbagai bantuan dan 

persediaan kepadanya. Seandainya mereka melakukan se-

muanya itu, tidak diragukan lagi, Gideon pasti akan meng-

ampuni mereka. Allah memberikan peringatan akan baha-

ya, dan memberikan kesempatan untuk bertobat,supaya  

orang-orang berdosa dapat melarikan diri dari murka yang 

akan datang. 

3. sebab  peringatan itu diremehkan, maka hukumannya, mes-

kipun sangat berat, benar-benar sangat adil. 

(1) Para pemuka di Sukot dijadikan contoh yang pertama. Gi-

deon mendapat keterangan tentang jumlah mereka, tujuh 

puluh tujuh orang, nama-nama mereka, dan tempat-tem-

pat kediaman mereka, yang dituliskan untuknya (ay. 14). 

Dan, yang sangat mengejutkan mereka, saat   mereka me-

nyangka bahwa ia tidak akan pernah mengalahkan orang 

Midian, ia kembali sebagai penakluk. Ketiga ratus orangnya 

Kitab Hakim-hakim 8:4-17 

 565 

sekarang menjadi pelayan-pelayan keadilannya. Mereka 

mengamankan semua pemuka ini, dan membawa mereka ke 

hadapan Gideon. Dan Gideon menunjukkan kepada mereka 

dua tahanan rajawinya yang terbelenggu. “Inilah orang-

orang yang kamu anggap bukan tandingan yang sepadan 

bagiku, dan kamu tidak mau memberiku bantuan untuk 

mengejar mereka” (ay. 15). Dan ia menghukum mereka 

dengan duri dan onak, namun , sepertinya, tidak sampai mati. 

Dengan duri dan onak ini,  

[1] Gideon menyiksa tubuh mereka, entah dengan men-

cambuk atau dengan menggulingkan mereka di atas-

nya. Dengan satu atau lain cara, ia merobek daging 

mereka (ay. 7, KJV). Orang-orang yang tidak menunjuk-

kan belas kasihan, akan dihukum tanpa belas kasihan. 

Mungkin ia mengamati bahwa mereka yaitu  orang-

orang yang berperangai halus dan lembut, yang meman-

dang rendah dia dan kawanannya sebab  kasar dan 

keras. Dan sebab  itu Gideon mempermalukan mereka 

seperti itu atas ketidakjantanan mereka.  

[2] Gideon mengajar pikiran mereka: Ia menghajar orang-

orang Sukot dengan itu (ay. 16). Hajaran yang diberikan-

nya kepada mereka dimaksudkan, bukan untuk meng-

hancurkan, melainkan untuk memberikan didikan yang 

baik, untuk membuat mereka lebih bijaksana dan lebih 

baik untuk ke depan. Ia membuat mereka tahu, demi-

kianlah kata yang dipakai, membuat mereka mengenal 

diri mereka sendiri dan kebodohan mereka, Allah dan 

kewajiban mereka. Ia membuat mereka tahu siapa 

Gideon, sebab mereka tidak mau mengetahuinya me-

lalui keberhasilan yang dengannya Allah telah memah-

kotainya. Perhatikanlah, banyak orang diajar dengan 

duri dan onak penderitaan, sebab mereka tidak akan 

belajar dengan cara lain. Allah memberikan hikmat me-

lalui tongkat dan teguran. Ia menghajar dan mengajar, 

dan melalui hajaran membukakan telinga bagi ajaran. 

Juruselamat kita yang terberkati, meskipun seorang 

Anak, namun telah belajar menjadi taat dari apa yang 

telah diderita-Nya (Ibr. 5:8). Hendaklah setiap duri yang 

menusuk dan onak yang memedihkan, terutama jika  

itu menjadi duri dalam daging, ditafsirkan demikian, di-

manfaatkan demikian. “Dengan ini Allah bermaksud 

untuk mengajarku. Pelajaran baik apa yang dapat ku-

pelajari?” 

(2) Hukuman terhadap orang-orang Pnuel datang berikutnya, 

dan tampaknya Gideon menggunakan duri dan onak secara 

lebih keras daripada untuk orang-orang Sukot, untuk 

alasan yang baik, tidak diragukan lagi (ay. 17).  

[1] Ia merobohkan menara mereka, yang mereka megahkan, 

dan yang mereka andalkan. Mungkin mereka, dengan 

mencemooh, menasihati Gideon dan orang-orangnya un-

tuk berlindung dalam menara itu daripada mengejar 

orang-orang Midian. Apa yang dibangga-banggakan orang, 

sepantasnya akan berbalik menjadi cela bagi mereka 

saat   kebanggaan mereka itu runtuh.  

[2] Ia membunuh orang-orang kota, tidak semuanya, mung-

kin bukan tua-tua atau para pemukanya, melainkan 

orang-orang yang telah menghina dia, dan mereka saja. 

Ia membunuh sebagian orang kota yang paling kurang 

ajar dan melecehkan, untuk membuat ngeri semua yang 

lain, dan dengan begitu ia mengajar orang-orang Pnuel. 

Zebah dan Salmuna Dibunuh 

(8:18-21)  

18 lalu  bertanyalah ia kepada Zebah dan Salmuna: “Di manakah orang-

orang yang telah kamu bunuh di Tabor itu?” Jawab mereka: “Mereka itu 

serupa dengan engkau, sikap mereka masing-masing seperti anak raja.”  

19 Lalu kata Gideon: “Saudara-saudarakulah itu, anak-anak iartikel ! Demi 

TUHAN yang hidup, seandainya kamu membiarkan mereka hidup, aku tidak 

akan membunuh kamu.” 20 Katanya kepada Yeter, anak sulungnya: “Bangun-

lah, bunuhlah mereka.” namun  orang muda itu tidak menghunus pedangnya, 

sebab  ia takut, sebab ia masih muda. 21 Lalu kata Zebah dan Salmuna: 

“Bangunlah engkau sendiri dan paranglah kami, sebab seperti orangnya, 

demikian pula kekuatannya.” Maka bangunlah Gideon, dibunuhnya Zebah 

dan Salmuna, lalu  diambilnya bulan-bulanan yang ada pada leher unta 

mereka. 

Penghakiman dimulai di rumah Allah, dalam hukuman yang adil 

terhadap orang-orang Sukot dan orang-orang Pnuel, yang yaitu  

orang Israel, namun  penghakiman itu tidak berakhir di sana. Kedua 

raja Midian, sesudah  mereka dipakai untuk menunjukkan kemenang-

an-kemenangan Gideon, dan menghiasi kemenangan-kemenangan-

nya, sekarang harus dimintai perhitungan.  

1. Mereka didakwa atas pembunuhan terhadap saudara-saudara 

Gideon beberapa waktu yang lalu di gunung Tabor. saat   orang 

Israel, sebab  takut kepada orang Midian, membuat bagi diri 

mereka tempat-tempat perlindungan di pegunungan (6:2), anak-

anak muda Israel itu, ada kemungkinan, berlindung di dalam 

gunung itu. Di sana mereka didapati oleh kedua raja ini, dan 

dibunuh secara paling keji dan biadab dengan darah dingin. 

saat   Gideon bertanya kepada Zebah dan Salmuna seperti apa 

orang-orang itu (ay. 18, KJV), itu bukanlah sebab  ia tidak pasti 

akan perkaranya, atau menginginkan bukti darinya. Ia bukannya 

tidak begitu peduli terhadap darah saudara-saudaranya, hingga 

tidak mencari tahu tentang itu sebelumnya. Tidak pula para 

penguasa lalim yang sombong ini berusaha menyembunyikannya. 

namun  ia mengajukan pertanyaan itu kepada merekasupaya  

melalui pengakuan mereka akan keelokan yang luar biasa dari 

orang-orang yang mereka bunuh, kejahatan mereka tampak lebih 

keji, dan sebab  itu hukuman terhadap mereka lebih benar. 

Mereka tidak bisa tidak pasti mengakui bahwa, meskipun orang-

orang Israel itu didapati dalam keadaan yang hina dina, namun 

mereka memiliki kebesaran dan keagungan yang tidak biasa 

dalam wajah mereka, tidak berbeda seperti Gideon sendiri pada 

saat ini: mereka seperti anak raja, terlahir untuk sesuatu yang 

besar.  

2. Kedua raja itu didapati bersalah atas pembunuhan ini oleh peng-

akuan mereka sendiri. Gideon bisa saja menghukum mati mereka 

sebagai hakim Israel atas kejahatan-kejahatan yang dilakukan 

terhadap bangsa Israel pada umumnya, seperti yang terjadi pada 

Oreb dan Zeeb (7:25). Namun demikian, ia lebih memilih untuk 

berperan sebagai penuntut tebusan darah, sebagai saudara ter-

dekat dari orang-orang yang dibunuh: Saudara-saudarakulah itu 

(ay. 19). Kejahatan-kejahatan mereka yang lain mungkin sudah 

dimaafkan, setidak-tidaknya Gideon tidak akan membunuh me-

reka dengan tangannya sendiri, dan akan membiarkan mereka 

memberikan pertanggungjawaban untuk itu kepada rakyat. namun  

sebab  darah adiknya itu berteriak, berteriak kepadanya, maka 

sekarang kekuasaan ada dalam tangannya untuk menuntut ba-

las, dan sebab  itu tidak ada lagi obat penawar. Oleh dialah darah 

mereka harus ditumpahkan, meskipun mereka yaitu  raja. Tak 

terbersit dalam pikiran mereka bahwa mereka akan mendengar 

perkataan ini begitu lama sesudah kejadian itu. namun  pembu-

nuhan jarang dibiarkan tanpa dihukum bahkan dalam kehidupan 

ini.  

3. Pelaksanaan hukuman itu dilakukan oleh Gideon dengan tangan-

nya sendiri, sebab ia yaitu  penuntut tebusan darah. Ia menyuruh 

anaknya untuk membunuh mereka, sebab ia yaitu  saudara 

dekat dari orang-orang yang dibunuh, dan paling pantas untuk 

menjadi pengganti dan wakil ayahnya, dengan demikian Gideon 

ingin melatih anaknya untuk melakukan tindakan-tindakan yang 

adil dan berani (ay. 20). Akan namun ,  

(1) Sang pemuda itu sendiri meminta dibebaskan dari tugas itu. 

Ia takut, meskipun mereka terikat dan tidak dapat melawan, 

sebab ia masih muda, dan tidak terbiasa dengan pekerjaan se-

perti itu. Keberanian tidak selalu mengalir dalam darah ketu-

runan.  

(2) Para tahanan itu sendiri memintasupaya  Gideon membebas-

kan sang pemuda dari tugas itu (ay. 21), dan memohon su-

paya, jika harus mati, biarlah mereka mati oleh tangannya 

sendiri. Ini agak lebih terhormat bagi mereka, dan lebih mu-

dah. Sebab, oleh kekuatannya yang besar, mereka akan terbu-

nuh dengan lebih cepat dan terbebas dari rasa sakit. Seperti 

orangnya, demikian pula kekuatannya. Yang mereka maksud-

kan mungkin diri mereka sendiri sebab  mereka yaitu  orang-

orang yang memiliki  kekuatan yang begitu rupa, hingga 

membutuhkan tangan yang lebih baik daripada tangan pemuda 

itu untuk menumbangkan mereka dengan cepat. Atau Gideon, 

“Engkau sedang ada dalam puncak kekuatanmu. Pemuda itu 

belum mencapainya. Oleh sebab itu, engkau saja yang menjadi 

algojonya.” Dari orang-orang yang sudah tumbuh dewasa, di-

harapkan bahwa apa yang mereka lakukan dalam pekerjaan 

apa saja, dilakukan dengan kekuatan yang jauh lebih besar. 

Gideon membunuh mereka dengan cepat, dan merampas bu-

lan-bulanan yang ada pada leher unta mereka, hiasan-hiasan 

seperti bulan, demikian dalam tafsiran yang agak luas. Entah 

lencana-lencana kerajaan mereka atau mungkin lambang-

lambang penyembahan berhala mereka, sebab Asyterot dilam-

bangkan dengan bulan, seperti Baal dilambangkan dengan

 matahari. Bersama barang-barang ini, ia juga mengambil se-

mua perhiasan mereka yang lain, seperti yang tampak dalam 

ayat 26. Dalam ayat itu, kita mendapati bahwa ia tidak meng-

gunakannya dengan begitu baik seperti yang akan diharapkan 

orang. Kehancuran dua raja ini, dan dua raja Midian yang lain 

(7:25), lama sesudahnya diserukan sebagai contoh dalam doa 

bagi kehancuran musuh-musuh jemaat yang lain. Buatlah para 

pemuka mereka seperti Oreb dan Zeeb, seperti Zebah dan 

Salmuna semua pemimpin mereka (Mzm. 83:12). Biarlah mereka 

semua binasa dengan cara yang serupa. 

Gideon Menolak Mahkota yang Ditawarkan 

(8:22-28) 

22 lalu  berkatalah orang Israel kepada Gideon: “Biarlah engkau meme-

rintah kami, baik engkau baik anakmu maupun cucumu, sebab engkaulah 

yang telah menyelamatkan kami dari tangan orang Midian.” 23 Jawab Gideon 

kepada mereka: “Aku tidak akan memerintah kamu dan juga anakku tidak 

akan memerintah kamu namun  TUHAN yang memerintah kamu.” 24 Selan-

jutnya kata Gideon kepada mereka: “Satu hal saja yang kuminta kepadamu: 

Baiklah kamu masing-masing memberikan anting-anting dari jarahannya.” – 

sebab  musuh itu beranting-anting mas, sebab mereka orang Ismael. 25 

Jawab mereka: “Kami mau memberikannya dengan suka hati.” sesudah  

dihamparkan sehelai kain, maka masing-masing melemparkan anting-anting 

dari jarahannya ke atas kain itu. 26 Adapun berat anting-anting emas yang 

dimintanya itu ada seribu tujuh ratus syikal emas, belum terhitung bulan-

bulanan, perhiasan telinga dan pakaian kain ungu muda yang dipakai oleh 

raja-raja Midian, dan belum terhitung kalung rantai yang ada pada leher 

unta mereka. 27 lalu  Gideon membuat efod dari semuanya itu dan 

menempatkannya di kotanya, di Ofra. Di sanalah orang Israel berlaku serong 

dengan menyembah efod itu; inilah yang menjadi jerat bagi Gideon dan seisi 

rumahnya. 28 Demikianlah orang Midian tunduk kepada orang Israel dan 

tidak dapat menegakkan kepalanya lagi; maka amanlah negeri itu empat 

puluh tahun lamanya pada zaman Gideon. 

Dalam perikop ini kita mendapati,  

I. Kebersahajaan Gideon yang patut dipuji, sesudah  kemenangannya 

yang besar, dalam menolak pemerintahan yang ditawarkan rakyat 

kepadanya.  

1. Mereka tulus dalam menawarkannya: Biarlah engkau memerin-

tah kami, sebab engkaulah yang telah menyelamatkan kami 

(ay. 22). Mereka menganggap sangat masuk akal bahwa dia 

yang sudah bersusah payah dan melewati segala bahaya un-

tuk membebaskan mereka, harus menikmati kehormatan dan 

kekuasaan dalam memerintah mereka sesudahnya. Dan mere-

ka sangat menghendaki bahwa dia yang dalam keadaan gawat 

dan genting ini sudah menunjukkan tanda-tanda hadirat Allah 

bersamanya, harus memimpin urusan-urusan mereka seterus-

nya. Marilah kita menerapkannya kepada Tuhan Yesus. Ia 

telah membebaskan kita dari tangan musuh-musuh kita, mu-

suh-musuh rohani kita, yang terburuk dan paling berbahaya, 

dan sebab  itu pantaslah Ia memerintah atas kita. Sebab 

bagaimana kita dapat diperintah dengan lebih baik, selain oleh 

Dia yang terlihat memiliki  pengaruh yang luar biasa di 

sorga, dan menunjukkan kebaikan yang begitu besar untuk 

bumi ini? Kita dibebaskansupaya  dapat beribadah kepada-

Nya tanpa takut (Luk. 1:74-75).  

2. Gideon merasa terhormat dan menolaknya: “Aku tidak akan 

memerintah kamu (ay. 23). Apa yang sudah dia lakukan, di-

lakukannya dengan maksud untuk melayani mereka, bukan 

untuk memerintah mereka. Untuk membuat mereka aman, 

tenang, dan bahagia, bukan untuk menjadikan dirinya sendiri 

besar atau terhormat. Dan, sama seperti ia sendiri tidak ber-

hasrat untuk menjadi besar, demikian pula ia tidak ingin me-

neruskannya kepada keluarganya: “Anakku tidak akan meme-

rintah kamu, pada saat aku hidup ataupun sesudah aku pergi. 

namun  TUHAN yang tetap memerintah kamu, dan mengangkat 

hakim-hakimmu melalui ketetapan khusus oleh Roh-Nya sen-

diri, seperti yang sudah dilakukan-Nya.” Ini menyiratkan,  

(1) Kebersahajaannya, dan sikap merendahnya akan dirinya 

sendiri dan jasa-jasanya. Ia berpikir bahwa kehormatan 

untuk berbuat baik sudah merupakan imbalan yang cukup 

untuk semua pelayanannya, dan tidak perlu diberi imbalan 

dengan kehormatan untuk berkuasa. Barangsiapa terbesar 

di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.  

(2) Kesalehannya, dan pandangannya yang tinggi akan peme-

rintahan Allah. Mungkin ia melihat dalam diri rakyat suatu 

ketidaksukaan terhadap teokrasi, atau pemerintahan ilahi, 

sebuah keinginan untuk memiliki raja seperti bangsa-

bangsa lain. Ia berpikir bahwa mereka memanfaatkan jasa-

jasanya sebagai dalih untuk bergerak melakukan perubah-

an pemerintahan ini. namun  Gideon sama sekali tidak mau 

menerimanya. Tidak ada orang baik yang bisa dibuat se-

nang dengan kehormatan apa saja yang diberikan kepada-

nya, yang seharusnya diberikan kepada Allah saja. Adakah 

kamu dibaptis dalam nama Paulus? (1Kor. 1:13). 

II. Semangat Gideon yang tidak biasanya untuk mengabadikan ingat-

an akan kemenangan ini, melalui efod yang terbuat dari barang-

barang jarahan yang terpilih.  

1. Gideon meminta orang-orang Israel untuk menyerahkan anting-

anting dari jarahan mereka. Sebab hiasan-hiasan seperti itu 

mereka lucuti secara berlimpah dari orang-orang yang dibunuh. 

Anting-anting ini dimintanya, entah sebab  anting-anting itu 

yaitu  emas yang terbaik, dan sebab  itu paling pantas dipa-

kai untuk keperluan ibadah, atau sebab  anting-anting diang-

gap sebagai barang yang memiliki  makna takhayul, yang 

dipandangnya terlalu tinggi. Harun meminta anting-anting un-

tuk membuat anak lembu tuangan (Kel. 32:2). Anting-anting 

ini juga diminta oleh Gideon (ay. 24). Dan cukup beralasan 

baginya untuk berpikir bahwa orang-orang yang menawarinya 

mahkota, saat   ia menolaknya, tidak akan menolak memberi-

nya anting-anting mereka, saat   ia memintanya. Dan mereka 

memang tidak menolaknya (ay. 25).  

2. Ia sendiri menambahkan jarahan yang diambilnya dari raja-

raja Midian, yang, tampaknya, jatuh ke dalam bagiannya (ay. 

26). Para panglima mendapat bagian jarahan yang paling 

bagus, jarahan kain berwarna (5:30). 

3. Dari barang jarahan ini, ia membuat sebuah baju efod (ay. 27). 

Hal itu cukup dapat diterima, dan bisa jadi diniatkan dengan 

baik untuk melestarikan ingatan akan kemenangan yang di-

peroleh sebab  bantuan Allah ini di kota sang hakim sendiri. 

namun  sungguh tanpa pertimbangan yang matang untuk mem-

buat efod, sebuah pakaian suci, sebagai tugu peringatan. Saya 

mau saja menduga-duga yang terbaik atas tindakan-tindakan 

orang baik, dan kita yakin Gideon yaitu  salah satunya. 

namun  beralasan bagi kita untuk curiga bahwa efod ini, seperti 

biasanya, disertai dengan terafim (Hos. 3:4). Dan bahwa, 

sebab  sudah ada mezbah yang dibangun menurut ketetapan 

ilahi (6:26), yang dia bayangkan secara keliru bahwa ia masih 

dapat menggunakannya untuk korban, ia meniatkan efod ini 

sebagai suatu sumber bimbingan, untuk dimintai petunjuk 

dalam perkara-perkara yang tidak pasti jalan keluarnya. Demi-

kianlah pendapat cendekiawan Dr. Spencer. sebab  sekarang 

setiap suku sudah memiliki  pemerintahan dalam wilayah-

nya sendiri, maka mereka terlalu condong untuk mengingin-

kan agama sendiri di antara mereka. Kita membaca sangat 

sedikit tentang Silo, dan tabut perjanjian di sana, dalam selu-

ruh kisah Hakim-hakim. Kadang-kadang oleh dispensasi ilahi, 

dan jauh lebih sering oleh pelanggaran manusia, hukum yang 

mewajibkan mereka untuk beribadah hanya di satu mezbah 

itu tampak tidak terlalu ditaati saleh seperti yang seharusnya. 

Hal ini juga terjadi di waktu-waktu lalu , saat   pada 

masa-masa pemerintahan para raja yang bahkan sangat baik, 

bukit-bukit pengorbanan tidak dijauhkan. Dari sini kita dapat 

menyimpulkan bahwa hukum itu menjangkau lebih jauh 

sebagai perlambang Kristus, yang oleh kepengantaraan-Nya 

semata-mata semua ibadah kita diterima. Oleh sebab itu 

Gideon, sebab  ketidaktahuan atau tidak adanya pertimbang-

an, berdosa dalam membuat baju efod ini, meskipun ia ber-

maksud baik. Silo, memang benar, tidak begitu jauh, namun  itu 

terletak di wilayah Efraim, dan suku itu belum lama ini tidak 

mau membantunya (ay. 1). Hal ini mungkin membuat Gideon 

tidak mau pergi begitu sering ke tengah-tengah orang Efraim, 

saat   ia memiliki  keperluan untuk pergi ke sana untuk 

mencari petunjuk dari bimbingan ilahi. Oleh sebab  itu, ia 

ingin memiliki  efod sendiri yang lebih dekat dengan rumah. 

Betapa pun ini mungkin diniatkan dengan tulus, dan pada 

awalnya menimbulkan sedikit masalah, namun seiring berja-

lannya waktu,  

(1) Orang Israel berlaku serong dengan menyembah efod itu. 

Yaitu, mereka meninggalkan mezbah dan jabatan imamat 

yang ditetapkan Allah, sebab  mereka suka akan perubah-

an, dan condong pada penyembahan berhala. Mereka pu-

nya alasan untuk memberikan penghormatan kepada efod 

ini, sebab orang yang begitu baik seperti Gideon telah 

mendirikannya. Secara perlahan-lahan penghormatan me-

reka terhadapnya semakin bersifat takhayul. Perhatikan-

lah, banyak orang dipimpin ke jalan-jalan yang salah oleh 

satu langkah yang salah dari orang yang baik. Permulaan 

dosa, khususnya dosa penyembahan berhala dan penyem-

bahan kehendak sendiri, yaitu  seperti membuka jalan air. 

Oleh sebab itu, undurlah sebelum perbantahan mulai.  

(2) Efod itu menjadi jerat bagi Gideon sendiri, sebab  dengan 

adanya efod ini ia meredakan semangatnya akan rumah 

Allah pada masa tuanya. Dan efod itu lebih jauh lagi men-

jadi jerat bagi keluarganya, yang diseret olehnya ke dalam 

dosa, dan itu terbukti menjadi kehancuran bagi keluarga 

itu. 

III. Peran Gideon yang membahagiakan bagi ketenteraman Israel (ay. 

28). Orang-orang Midian yang sudah begitu menyusahkan mereka, 

tidak lagi mengganggu mereka. Gideon, meskipun tidak mau berla-

gak seperti seorang raja yang terhormat dan berkuasa, memerintah 

sebagai hakim, dan melakukan semua pekerjaaan baik yang dapat 

dilakukannya untuk rakyatnya. Dengan begitu, amanlah negeri itu 

empat puluh tahun lamanya. Sampai sejauh ini masa-masa Israel 

dihitung setiap empat puluh tahun. Otniel menjadi hakim selama 

empat puluh tahun, Ehud delapan puluh tahun, dua kali empat 

puluh. Barak memerintah selama empat puluh tahun, dan seka-

rang Gideon empat puluh tahun. Penyelenggaraan ilahi mengatur-

nya demikian untuk mengingatkan mereka akan empat puluh 

tahun pengembaraan mereka di padang gurun. Empat puluh tahun 

Aku jemu kepada angkatan itu (lihat Yeh. 4:6). Sesudah ini, Eli 

memerintah selama empat puluh tahun (1Sam. 4:18), Samuel dan 

Saul empat puluh tahun (Kis. 13:21), Daud empat puluh tahun, 

dan Salomo empat puluh tahun. Empat puluh tahun yaitu  kira-

kira satu ukuran masa atau usia. 

Kembalinya Israel pada Penyembahan Berhala  

(8:29-35)  

29 Lalu Yerubaal bin Yoas pergilah dan diam di rumahnya sendiri. 30 Gideon 

memiliki  tujuh puluh anak laki-laki, semuanya anak kandungnya, sebab 

ia beristeri banyak; 31 juga gundiknya yang tinggal di Sikhem melahirkan 

seorang anak laki-laki baginya, lalu ia memberikan nama Abimelekh kepada 

anak itu. 32 Gideon bin Yoas mati pada waktu rambutnya telah putih, lalu 

dikuburkan dalam kubur Yoas, ayahnya, di Ofra kota orang Abiezer. 33 Sete-

lah Gideon mati, kembalilah orang Israel berjalan serong dengan mengikuti 

para Baal dan membuat Baal-Berit menjadi allah mereka; 34 orang Israel 

tidak ingat kepada TUHAN, Allah mereka, yang telah melepaskan mereka dari 

tangan semua musuhnya di sekelilingnya, 35 juga tidak menunjukkan terima 

kasihnya kepada keturunan Yerubaal-Gideon seimbang dengan segala yang 

baik yang telah dilakukannya kepada orang Israel. 

Kita mendapati dalam perikop ini penutup dari kisah Gideon. 

1. Ia hidup di rumah sendiri (ay. 29). Ia tidak menjadi sombong oleh 

kehormatan-kehormatannya yang besar, tidak mendambakan 

istana atau puri untuk tinggal, namun  menarik diri ke rumah yang 

sudah didiaminya sebelum pengangkatannya. Demikian pula hal-

nya dengan orang Romawi yang pemberani itu, yang dipanggil 

secara mendadak dari pekerjaan membajak untuk memimpin pa-

sukan. Dan saat   pekerjaan itu telah usai, ia kembali untuk 

membajak lagi. 

2. Keluarga Gideon bertambah banyak. Ia memiliki  banyak istri, 

dalam hal ini ia melanggar hukum Taurat. Dari istri-istri itu ia 

memiliki  tujuh puluh anak laki-laki (ay. 30), namun  dari se-

orang gundik ia memiliki  seorang anak yang dinamainya Abi-

melekh yang berarti, ayahku seorang raja, yang ternyata menjadi 

kehancuran bagi keluarganya (ay. 31).  

3. Gideon meninggal dalam kehormatan, dalam usia tua yang baik, 

sesudah  ia hidup sepanjang waktu ia mampu melayani Allah dan 

negerinya. Dengan keadaan begitu siapa yang ingin hidup lebih 

lama lagi? Ia dikuburkan dalam kubur ayahnya.  

4. sesudah  kematiannya, orang Israel menjadi rusak, dan membuat 

semuanya menjadi sia-sia. Segera sesudah  Gideon meninggal, yang 

sudah membuat mereka tetap dekat dengan penyembahan kepada 

Allah Israel, mereka mendapati diri tidak berada di bawah ke-

kangan. Dan lalu  mereka berjalan serong dengan mengikuti 

para Baal (ay. 33). Mereka berjalan serong pertama-tama dengan 

mengikuti efod lain (ay. 27). Untuk pelanggaran itu, Gideon 

sendiri telah memberi mereka terlalu banyak peluang. Sekarang 

mereka berjalan serong dengan mengikuti allah lain. Penyembah-

an-penyembahan palsu membuka jalan bagi ilah-ilah palsu. Mere-

ka sekarang memilih allah baru (5:8), allah dengan nama baru, 

Baal-Berit, seorang dewi, menurut sebagian penafsir. Berit, menu-

rut pendapat sebagian penafsir, yaitu  Beritus, tempat di mana 

orang Fenisia menyembah berhala ini. Nama itu berarti tuhan dari 

sebuah perjanjian. Mungkin ia disebut demikian sebab  para 

penyembahnya menggabungkan diri dengannya melalui perjan-

jian, dengan meniru Israel yang mengikat perjanjian dengan Allah. 

Sebab Iblis suka meniru Allah. Dalam pemberontakan Israel ke-

pada penyembahan berhala ini, mereka menunjukkan,  

(1) Sikap yang sangat tidak tahu berterima kasih kepada Allah 

(ay. 34): Orang Israel tidak ingat kepada TUHAN, yang tidak 

hanya telah menyerahkan mereka ke dalam tangan musuh-

musuh mereka, untuk menghukum mereka atas penyem-

bahan berhala mereka, namun  juga yang telah melepaskan me-

reka dari tangan semua musuh mereka, untuk mengundang 

mereka kembali untuk beribadah kepada-Nya. Baik pengha-

kiman maupun belas kasihan dilupakan, dan kesan-kesan 

yang ditanamkannya menghilang.  

(2) Sikap yang tidak tahu berterima kasih kepada Gideon (ay. 35). 

Segala yang baik telah dilakukannya kepada orang Israel, 

sebagai bapak dari bangsa itu, yang untuk itu mereka seha-

rusnya memperlakukan keluarganya dengan baik sesudah  ia 

tiada. Sebab itu yaitu  satu cara bagi kita untuk menunjuk-

kan rasa terima kasih kita kepada teman-teman kita dan 

orang-orang yang sudah berbuat kebaikan kepada kita. Dan 

dengan cara itu, kita bisa membalas kebaikan mereka saat   

mereka sudah terbaring dalam kubur. namun  Israel tidak 

menunjukkan kebaikan ini kepada keluarga Gideon, seperti 

yang akan kita dapati dalam pasal berikutnya. Tidak heran 

jika orang-orang yang melupakan Allah mereka, juga melupa-

kan teman-teman mereka. 

 

 

PASAL  9  

emurtadan Israel sesudah  kematian Gideon diganjar dengan 

hukuman, bukan seperti kemurtadan-kemurtadan sebelumnya, 

yakni dengan serangan bangsa asing, atau penindasan oleh suatu 

negeri tetangga yang berkuasa, melainkan dengan huru-hara di 

antara mereka sendiri, yang kisahnya kita baca dalam pasal ini. Sulit 

dikatakan mana yang paling banyak terlihat di sini, dosa mereka 

ataukah kesengsaraan mereka. Pasal ini memberikan penjelasan 

mengenai perebutan kuasa dan kelaliman yang dilakukan Abimelekh, 

anak Gideon yang hina. Demikianlah kita harus menyebutnya, dan 

bukan secara lebih terhormat, anak kandungnya. Abimelekh begitu 

tidak serupa dengan Gideon. Dalam pasal ini diceritakan kepada kita, 

I.  Bagaimana Abimelekh mendesakkan dirinya masuk ke dalam 

pemerintahan di Sikhem, kotanya sendiri, melalui kelicikan 

dan kekejaman, khususnya dengan membunuh semua sau-

daranya (ay. 1-6). 

II. Bagaimana hukumannya dibacakan dalam sebuah perum-

pamaan oleh Yotam, anak bungsu Gideon (ay. 7-21). 

III. Perselisihan-perselisihan apa yang terjadi antara Abimelekh 

dan kawan-kawannya, yakni warga kota Sikhem (ay. 22-41). 

IV. Bagaimana semuanya ini berakhir dengan kehancuran warga 

kota Sikhem (ay. 42-49), dan kehancuran Abimelekh sendiri 

(ay. 50-57). Tentang si bintang jatuh ini, raja yang penuh 

dengan pancaran harapan hampa ini, yang tidak menjadi 

pelindung melainkan bencana bagi negerinya, kita dapat ber-

kata, seperti yang pernah dikatakan tentang seorang pengua-

sa yang sangat lalim, bahwa ia muncul seperti rubah, meme-

rintah sep